Esai Warung Lesehan
Kali ini aku mendapat tugas membuat tulisan tentang esai. Detilnya, membuat paparan tentang tips-trik penulisan esai. Hmh, sejujurnya, ini materi yang tidak aku kuasai. Pula, aku tak pernah menulis esai secara serius. Ghalibnya, tulisan-tulisan model howto seperti ini mestinya ditulis oleh orang yang punya jam terbang cukup tinggi di bidang yang digelutinya. Dan, aku?! Tak satupun kriteria itu yang aku punya.
Satu-satunya cara yang terbetik di pikiranku sekarang adalah mencari narasumber terpercaya. Narasumber yang bisa memberi pencerahan padaku tentang subyek ini.
Aku sampai di rumah narasumberku jam dua siang. Waktu yang cukup tepat menurutku untuk menjumpai seseorang dengan karakter yang cukup eksentrik. Tinimbang sebagai penulis, lagak narasumberku ini lebih mirip seorang seniman.
Beliau ini, aku anggap sebagai guru—namun dia tak perlu mengangkatku sebagai muridnya. Aku menjadi muridnya secara sembunyi-sembunyi saja. Makanya, wawancara kali ini pun tak nampak sebagai wawancara yg biasanya. Tape recorder juga tak aku acungkan ke mukanya, cukup aku taruh di saku seperti pesawat seluler biasa. Itu karena aku tahu, dia tak suka diekspos media, atau diwawancarai secara formal.
Setelah sedikit basa-basi…..
…..
Aku:
Akang:
(huh, ini yg aku kurang suka sama guruku. Jawabannya nggak praktis, selalu muter-muter dulu sebelum masuk ke intinya. Tapi, sebenarnya cara ini juga yg bikin penalaranku lebih dewasa.)
Aku:
Akang:
Aku:
Akang:
(tuh kan, pertanyaannya muter-muter lagi. Dasar!! Hobi kok mbulet)
Aku:
Akang:
Aku:
Akang:
(nah, gara-gara aku terlalu mengejar jawabannya, dia jadi diam agak lama. Pinternya lagi, itu juga jadi alasan buatnya agar aku sudi membelikan rokok. Teman buat mikir, katanya. Waktuku untuk membelikan rokok, rupanya juga merupakan jeda untuk guruku ini memikirkan akibat jawabannya yang asal-asalan itu. Dan sepertinya dia juga mulai ngerasa kalau kedatanganku memang sengaja untuk nanggap omongannya).
Akang:
Ibaratnya penulisan esai itu seperti proses penciptaan karya seni. Bolah-boleh saja beberapa seniman berkarya bersama-sama dengan ambil tema yang seragam. Tapi soal penuangan gagasannya itu kan tanggungjawab individu.
Aku:
Akang:
Tulisan esai itu fungsinya sebagai reminder, stimulan. Jarang orang yang memformulasikannya sebagai jawaban sebuah pertanyaan, atau mendefiniskan kebenaran. Mayoritas esai malah isinya pertanyaan-pertanyaan. Mempertanyakan kemapanan, memunculkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang bagi kebanyakan orang sudah terjawab dan layak diabaikan. Padahal kan pertanyaan-pertanyaan itu harus selalu muncul, kemapanan harus selalu dipertanyakan biar tidak kehilangan makna. Makna juga harus terus digali biar tak kehilangan arti.
(nah, lo. Ini kan jawabanku sendiri. Jawabanku yang tadi waktu dia mempertanyakan pertanyaanku… Cuman kali ini dibahasakannya lagi dengan lebih apik dan bernas. Hal-hal seperti inlah yang membuat aku sering kagum…, pada diriku sendiri, hehehe)
Aku:
Akang:
Daun yang jatuh dari pohonnya, itu salahsatu kejadian yang terlalu biasa untuk diperhatikan dan direnungkan—apalagi menjadi sarana pengucapan. Tapi, kemungkinan kreatif untuk memberi makna daun gugur tidak hanya semata-mata daun gugur—itulah yang membuat gugurnya daun itu jadi lebih istimewa.
Coba kamu pikir, daun gugur itu bisa dikasih muatan makna apa saja….
Dia bisa dikasih makna semiotika sebagai sesuatu yang menua, kemuraman, kematian, bahkan secara optimistik bisa dimaknai sebagai peralihan kepada munculnya dedaunan yang lebih segar dan baru atau peralihan musim.
Daun yang gugur di taman kota, sering dimaknai sebagai kotoran yang harus disapu. Daun gugur di hutan, itu calon humus baru. Lha kalau daun kelapa yang gugur, itu bisa jadi petaka kalau menimpa kepalamu, hehehehe.
Aku:
Akang :